Nurul Ludfia Rochmah–Guru MAN 1 Banyuwangi, Penulis Buku Kopi dan Karbit, Penggagas Forum 28, Penggiat Literasi Banyuwangi
Puisi-puisi dalam kemas ‘wajah’ ini memiliki aroma mitaim, sebab konteksnya adalah melegakan. Setelah sibuk menggebuk, menuai suntuk, rindu peluk kopi tubruk, menengok antrean tugas negara yang bertumpuk, tak juga dihampiri kantuk, bolehlah menikmati ‘wajah’ ini. Karena membacanya menjadi mitaim tersendiri. Ada kelegaan yang memancing beragam imajinasi. Ada petuah karena ‘wajah’ bisa menjadi cermin diri.
Iraa Rachmawati–Jurnalis, Pecinta Laut, Langit, juga Kata-kata
Membaca puisi-puisinya, bukan hanya sekedar berbicara sekolah atau kampus karena dia seorang pengajar, atau berbicara tentang Banyuwangi karena dia tinggal di Banyuwangi tapi berbicara tentang kenangan, tentang pertemuan, dan juga berpisahan. Puisi-puisinya mewakili suara perempuan yang tidak terdengar di dunia yang berjenis kelamin laki-laki.
Anggie Amanda–MC, Penyiar Radio, Kepala Humas Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
Butuh waktu untuk betul-betul menikmati dan membaca deretan kata-kata cantik dalam wajah tanpa terputus. Seperti sebuah roller coaster, membacanya membuat raut wajah beberapa kali berubah. Sejenak serius, tiba-tiba membuat tersenyum, serius lagi, tersenyum lagi. Sungguh tak membosankan.
Radina Amalia–Mantan Editor Lingukata Imprint Kawan Pustaka, Brand Communication PT Suprama
Hal-hal yang direkam dituang dalam repetisi kata yang semakin mengikat kenangan. Pilihan diksi “kekinian” pun juga saya temui, menyingkap lengkap bahwa wajah ini tentang sejarah, kenangan, dan hal baru yang sebenarnya tak pernah putus.
Judul: Wajah
Penulis: Muttafaqur Rohmah
Tebal: 142 Halaman
Ukuran Buku: 13 x 19 cm
ISBN: 978-602-6679-30-7
Tanggal Terbit: Desember 2017
Genre: Fiksi (Kumpulan Puisi)
Harga: –
