Aku kembali berhadapan dengan cerminku, membisikkan mantra-mantra untuk diriku sendiri. “Kau baik-baik saja?” “Berdamailah dengan takdir.” “Maafkan dirimu sendiri, maafkan masa lalumu.” “Kau berhak bahagia!” Mantra-mantra itu, melayang hilang seiring senyuman yang tergores di wajah bayanganku, mengejekku. Dia berkata dengan lirih, “Kau pikir bisa semudah itu bahagia? Kau lupa, setiap kebahagiaan yang pernah datang padamu […]
DetailsTanpa Arah
