Puisi Zamhir Arifin dalam Kumpulan Pada Senja Yang Patah hadir mengalir sebagai kisahan dalam menghadapi waktu setiap jejak peristiwa, semacam nyanyian cinta dan kerinduan yang menyentuh empati kita. Puisi-puisinya bersuara tentang hal ihwal manusia yang mencatat perihnya waktu serta usia yang fana. Kegundahan inilah yang menikam hati kita yang membacanya. Senja yang patah kemaren/adalah reranting kering/sehelai pucuknya mawar/yang memar/Pun belum sempat kubangun istana di bibirmu. — Hafney Maulana, Penyair Riau
“Pada Senja yang Patah”, puisi Zamhir ini sudah menunjukkan satu irama yang cukup indah. Apabila digarap dengan lebih serius dan dalam, bukan tidak mungkin, karya-karya Zamhir tidak saja bagus dari segi irama tapi akan bernas dan sublim maknanya. Selamat, buku ini telah mengisi khazanah kebudayaan kita. –Griven H. Putera, Budayawan/Sastrawan Riau
Zamhir Arifin merdu menyanyikan cinta dan rindu pada kampung halaman dan masa kanak-kanaknya yang penuh harapan dalam diksi yang kuat dan syarat makna. Seperti bayu, ia mengisahkan sebuah perjalanan yang telah, akan, bahkan belum dilalui dengan sangat lembut dan syahdu, melintasi ruang dan lorong-lorong waktu yang panjang. Zamhir seperti telah lama pergi meninggalkan jalan puisi yang sudah ia ciptakan sejak masih kecil. Ia sadar, jalan itu masih terbuka, menanti di ujung renungnya. Maka, diam-diam, ia pun kembali, berjalan lebih laju, lebih hati-hati, lebih tenang dan matang melalui jalan puisi. –Kunni masrohanti, Sastrawan/Seniman Riau
Judul: Pada Senja Yang Patah
Penulis: H. Zamhir Arifin, S. Ag, M.Si
Tebal: 214 Halaman
Ukuran Buku: 12 x 19 cm
ISBN: 978-602-6679-01-7
Tanggal Terbit: Mei 2017
Genre: Fiksi (Kumpulan Puisi)
Harga: –
