Halimun Biru di Singosari dan Asmara Cempaka Gading, Novel Dwilogi

Judul: Halimun Biru di Singosari dan Asmara Cempaka Gading, Novel Dwilogi
Penulis: Hariono Santoso
Tebal: 444 Halaman
Ukuran Buku: 14,5 x 21 cm
ISBN: 978-623-5530-97-0
Terbit: Januari 2024
Genre: Fiksi
Penerbit: CV MejaTamu
Harga: –
Sinopsis: Dalam logi pertama Halimun Biru di Singosari, deskripsi karak­ter tokoh protagonisnya begitu detil sehingga memudahkan pem­baca beridentifikasi. Nama aslinya Arya Kumbara. Pemuda zaman now. Tetapi ketika melakukan menjelajah waktu ke zaman Singosari, orang-orang di sekitarnya ada yang memanggil Haryo Maheso, Haryo Ngumboro, dan Joko Tiban. Ini unik.
Pada logi kedua, Asmara Cempaka Gading, pembaca akan bertemu tokoh protagonis baru yang juga sangat menarik. Gadis pendekar dari Cempo berkulit langsat yang cantik jelita. Nama­nya Sun Mi. Dia hidup di masa akhir Kerajaan Singosari. Uniknya lagi, dalam penyamarannya sebagai seorang pemuda, Sun Mi memakai nama Joko Langsep. Namun oleh sang kekasih, Sun Mi alias Joko Langsep kemudian diberi nama Cempaka Gading.

Pertemuan antara gadis Cempo dengan Arya Kumbara, tokoh utama dalam logi pertama Halimun Biru di Singosari, sungguh menarik diikuti. Semula berseteru, kemudian bermitra. Tentu saja menjadi tak menarik lagi jika semua diungkap dalam catatan ini.
Pujian layak diberikan kepada penulis yang mengaku baru pertama menulis novel adalah kepiawaiannya dalam menyusun kons­truksi dramatik (dramatic construction). Dia mampu membangun konstruksi dramatik dengan “teknik gergaji.” Naik-turun-naik-turun-naik, hingga klimaks. Di sela naik-turun diberinya gimmick, suspens, kadang seram dan surprise. Ramuan dramaturgi yang secara teori bisa dipelajari, tetapi sulit diimplementasikan.

Membaca novel ini sepertinya tidak bisa sambil lalu. Kadang-kadang penulis seperti sambil lalu menanam informasi (planting information), seolah-olah tidak penting, tetapi belakangan informasi itu justru menjadi “kunci” jawaban. Planting information itu kadang berupa benda, kata, atau peristiwa. Cerdik sekali penulis meramunya.

Sebenarnya tidak terlalu mengherankan jika penulis memiliki kemampuan itu. Sebagaimana diketahui, 35 tahun penulis ber­kecimpung di media televisi. Dan dua tahun sebelum pensiun (2008-2010), sempat menjadi Direktur Utama TVRI. Artinya, berbagai format tontonan, termasuk drama, tentu sudah dilahap­nya. Lalu semua itu diserap (di-absorb), disimpan di dalam memori bawah sadarnya, kemudian tinggal recall saat menulis menulis novel dwilogi ini.

Percayalah, setelah mengikuti novel ini, pembaca pasti menantikan logi atau serial berikutnya. Ceritanya sangat terbuka dikem­bangkan. Tokoh utamanya, sang penjelajah waku, time tra­veler, bisa mengajak pembaca ke mana saja. Sesekali diajak ke ma­sa depan tentu sangat mengasyikkan. Kita tunggu saja! •

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recent Posts

Top 3 Seller

Get Special Offers & Discounts

Vivamus suscipit tortor eget felis porttitor volutpat.

Shop Now

Setelah buku kumpulan puisi saya Anak Luka Susu lahir dibidani Meja Tamu, saya puas dan bahagia. Saya selalu berpikir untuk lagi dan lagi menerbitkan buku saya di sana. Hasilnya nyeni, tetapi tidak asal nyeni karena tim kerja Meja Tamu adalah kumpulan para penulis, penyair, perupa, dan desainer grafis.

— Muhammad Asqalani eNeSTe

Product categories